Reses di Awal 2021, Fajar Ishak Sambangi Tiga Desa

0
48

Kendari,corongsultra.id – Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) Fajar Ishak melaksanakan reses masa sidang I tahun 2020-2021. Dia berkujung menyerap aspirasi di daerah pemilihannya di Bau Bau, Buton, dan Buton Selatan (Busel).

Di Kota Bau Bau, Fajar Ishak reses di Kelurahan Bone Bone. Di tempat itu masyarakat menginginkan supaya pemprov Sultra mengabulkan keinginan mereka membangun kawasan khusus wisata nelayan di area pesisir pantai Kelurahan Bone Bone, kemudian bantuan bahan benang khusus untuk sarung tenun Buton, dan usulan pembuatan sumur bor untuk kebutuhan air bersih masjid, puskesmas, dan sekolah.

“Mereka juga memintan bantuan Alquran untuk majelis talklim dan taman baca Alquran. Khusus untuk bantuan Alquran ini telah terealisasikan menggunakan dana pribadi saya, jadi tidak perlu lagi ke APBD. Tapi karena terkait kepentingan masyarakat , saya selesaikan dengan niat ini adalah kepentingan syiar Islam,” katanya saat ditemui di DPRD Sultra, Rabu (10/2/2021).

Di titik reses berikutnya di Kabupaten Buton. Politisi senior Hanura Sultra ini mendengarkan aspirasi dari guru dan kepala sekolah setempat. Aspirasi yang mereka sampaikan adalah nasib 25 guru guru tidak tetap (GTT) di Kecamatan Siontapina dan Wolowa belum memiliki SK gubernur.

“Mereka meminta ada kenaikan guru GTT yang selama ini Rp 400 ribu dan Alhamdullilah dalam APBD 2021 sudah dinaikkan menjadi Rp 500 ribu. Untuk kebutuhan RKB ada kekurangan RKB dan ada RKB yang perlu direhab. Kebutuhan MCK dan pagar sekolah. Semua itu dicatat dan kita semua konsisten memperjuangkan di APBD 2022 nanti,” katanya.

Sedangkan resesnya di desa Matanawue, ada jembatan/pelabuhan yang dibangun dinas perhubungan sudah dua tahap selesai tetapi tinggal satu tahap belum diselesaikan. Di samping itu kata dia, mereka butuh bantuan perumahan nelayan yangsudah disiapkan lahannya. Demikian juga rumah-rumah penduduk, mereka juga butuh bedah rumah.

Kemudian di Buton Selatan, Sekretaris Komisi IV DPRD Sultra itu menutup kegiatan resesnya di Desa Kapoa. Masyarakatnya meminta pembangunan talud, benang tenun, dan bantuan pada nelayan.

“Di desa Kapoa, masyarakat mengusulkan ada tiga. Mereka butuh tanggul talud pemecah ombak, mereka butuh benang tenun karena mereka mayoritas bekerja menenun, dan bantuan nelayan untuk meningkatkan pendapatannya,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here